Berkembangnya industri jasa kontruksi, menciptakan suatu peluang bagi para pelaku yang bergerak di bidang jasa konsultan, kontraktor dan jasa lainnya yang terkait, sehingga dibutuhkan perusahaan konsultan manajemen proyek atau Construction Management (CM) yang dapat membawa efisiensi penyelesaian suatu proyek.
Bisnis baru ini mencakup keseluruhan CM dan jasa pengelolaannya yang meliputi proyek gedung maupun bangunan sipil lainnya. Dampaknya, perusahaan-perusahaan besar seperti grup Lippo mendirikan sebuah perusahaan konsultan CM yang khusus menangani manajemen proyek atau merupakan divisi tersendiri (in-house) yang akan memudahkan koordinasi, pengontrolan dan cepat dalam mengambil keputusan. Selain itu, CM juga dapat mengatur waktu untuk multi project. Khusus untuk perusahaan kontraktor maupun owner yang masih relatif berkembang, adanya CM kurang efisien, sehingga diperlukan CM yang bukan in-house. Dalam hal budget, akan berpengaruh terhadap bertambahnya rencana anggaran biaya (RAB) proyek dengan adanya CM.
Skup kerja CM meliputi review desain dari konsultan perencana, dalam pelaksanaan tender, CM dibantu oleh Quantity Surveyor (QS), setelah itu key of meeting dengan kontraktor menyangkut masalah skejul (master skejul), metode kerja dan aturan mainnya, mengkordinir kontraktor-kontraktor yang terlibat dalam suatu proyek, membuat laporan profesi board menyangkut biaya, mutu dan waktu.
Terlepas dari apakah CM itu dibentuk sebagai in-house perusahaan maupun perusahaan yang berdiri sendiri, ada beberapa kriteria mengenai perlunya CM dalam pelaksanaan proyek, antara lain:
- Pembangunan suatu proyek cukup kompleks.
- Proyek sudah berjalan, tetapi desainnya belum selesai.
- Owner tidak banyak mengerti tentang dunia contracting.
- CM bertugas sebagai pengelola proyek bukan pengawas lapangan.
Jadi, dengan mempergunakan jasa konsultan CM, bagi owner, ini merupakan suatu keuntungan dikarenakan efisiensi yang diterima menjadi jauh lebih besar dibandingkan tanpa kehadiran CM.
Tags: Construction Management